Semakin lama saya semakin tua, semakin banyak pula hal-hal yang saya pikirkan. Bukan soal melanjutkan hidup tapi mau sampai kapan saya menyebarkan virus dan luka ini? Ini membuat saya pusing setengah mampus memikirkannya. Semakin lama semakin banyak yang terluka, bukan hanya saya tapi orang-orang yang saya cintai. Itu membuat kami terluka lebih parah dan tak tahu harus apa. Semakin lama juga luka-luka ini semakin serius dan tidak bisa lagi tertahankan.
Dan akhirnya, dia memutuskan untuk membuat keputusan yang sebenarnya saya sudah tahu dan harus bersikap apa. Tapi saat itu saya malah pura-pura tidak tahu harus apa, alih-alih mengagetkan diri sebetulnya. Memang rasanya tidak ada lagi selera, pahit, kehilangan, bahkan sia-sia merasuk ke dalam pikiran saya saat itu. Seperti musafir yang kehilangan arah. Saya rasa ini proses yang cukup cepat untuk memulihkan kesedihan. Tapi kalau bukan saya sendiri yang memilih bahagia, lantas kapan saya bisa bahagia tanpa pengharapan yang akan berujung kekecewaan? Apa harus seperti itu? Saya rasa tidak. Semua ada ditangan saya, bahagia atau tidak saya yang putuskan, bukan lagi digantungkan pada seseorang. Dan saya memilih jalan saya sendiri.
Seiring berjalannya waktu, saya malah tidak pernah merasa sendirian. Aneh, saya pikir saya akan menjadi orang yang kehilangan arah, nyatanya malah berbeda. Dukungan dari berbagai sisi seolah datang memberikan saya energi lebih, lebih kuat untuk menjalani. Saya merasa lebih berarti dalam hidup ini, mengobati luka yang telah saya buat, memaafkan dia, dan yang paling sulit memaafkan diri sendiri pun perlahan saya lakukan. Saya kembali dalam jalan saya sendiri.
Lalu, rasa kehilangan ini ternyata hanya sementara, saya malah merasa lebih baik dan lebih lega dalam hidup. Tidak ada lagi yang harus saya tutup-tutupi, nafas pun terasa lega.
Seiring berjalannya waktu, hidup saya kembali seperti didatangkan keajaiban yang entah datang dari mana. Tidak terduga dan saya tidak mengharapkan ini datang. Tapi nyatanya malah datang. Seolah tanpa jeda, hal ini datang terus-menerus menghujam saya yang keras kepala, saya yang tidak peduli, saya yang belum merasa bisa lagi menemukan, eh malah diketemukan. Oleh orang kedua.
Saya menolak, semakin datang, saya diam, semakin menghujam, lambat laun saya tidak bisa menahan itu semua.
Dan akhirnya saya memilih untuk menerima dan diterima. Memaafkan saya dan menerima saya seolah saya hal yang spesial dalam hidupnya. Sederhana yang saya sukai dia lakukan dengan menyenangkan. Dan yang lebih menyenangkan lagi membuat saya lebih baik dan mendekatkan saya kepada Sang Pencipta yang pernah saya sedikit tinggalkan.
Terima kasih untuk orang pertama, yang senantiasa membuat saya hebat seperti sekarang, sabar dalam menjalani kesukaran dan memberikan saya pelajaran hdiup yang banyak. Mungkin ini cara mencintai yang sesuai dengan realita, semoga kamu lebih bahagia.
Terima kasih pun untuk orang kedua yang kini menemukan saya dalam tumpukan kesalahan serta memahami saya. Semoga menjadi lebih baik dalam kelanjutan hidup.
Saya lega.


